Oct 26, 2009

Ridho Hafiedz's Note

taken from LOUD Music Magazine, edisi Oktober 10/II/09

Editor's Note
by Ridho Hafiedz

Banyak yang berasumsi eksistensi sebuah band dilihat dari album ke tiga dan seterusnya. Kita tau dan faktanya memang banyak band-band yang setelah album pertama langsung meredup, dan memang bisa kita lihat faktanya di lima tahun terakhir industri musik kita. Ternyata memang banyak faktor yang menjadi akibat mengapa bisa seperti itu. Dari beberapa teman, gue mendapat berita kalo ada band yang merasa puas dengan kesuksesan saat ini, ada band yang tidak memiliki planning yang matang atau cuma latah terhadap trend musik saat ini, faktor managerial yang gak jelas dan lain-lain.

Memang seharusnya di saat kondisi industri musik kita yang lagi "gini" strategi management harus jitu, gak bisa hanya nunggu bola atau puas dengan ketenaran sesaat. Band yang kuat adalah band yang memiliki strategi marketing yang bagus, efisien dan siap jadi "sales" tapi tidak "melacur". Kesalahan sistem yang disebutkan tadi menjadi salah satu mengapa mereka gak bisa survive, karena berpikir udah mentok dan gak bisa bikin apa-apa lagi akhirnya bubar.

Ada teman yang datang dan curhat kalo dia udah mulai jarang show off air, gara-gara promotor lebih tertarik dengan band murah yang gak macam-macam. Bahkan katanya ada band yang cukup dikenal yang mau dibayar 10 juta untuk tiga titik show, waw...Kalo gini sistem profesional emang gak akan bisa hidup. Menurut dia, alasan promotor dengan membawa tiga band murah toh sama-sama saja dengan membawa satu band gede bahkan jumlah penonton juga sama saja. Tapi kalo pemikiran bisnisnya begini memang kita akan kehilangan show yang berkualitas, alasan gue ya memang harga gak akan bohong.