Jun 28, 2010

MorphWiz and Piano in Calgary - by Jordan Rudess

Another MorphWiz demo by Jordan Rudess...this time he's playing piano along with it. It's a really beautiful song :')

Jun 27, 2010

"Siapa ini?"; "Justin Bieber."; "Yang nyanyi itu adalah cowok?"; "Ya."; "WHAT THE FUCK?"



Kali ini saya menuliskan tentang Rolling Stone edisi Juli 2010 yang sangat membuat saya terkesan. Majalah musik edisi lokal dengan merek dan kualitas internasional edisi bulan ini memuat beberapa artikel yang sangat menarik. Salah satunya ditulis Endah Widiastuti, gitaris dari duo EndahNRhesa. Artikel tersebut berjudul "Seputar Ajang Penghargaan". Berikut beberapa kutipan dari artikel tersebut:


"Akhir-akhir ini banyak ajang penghargaan yang ada di Indonesia. Mereka hadir dengan berbagai kemasan serta metode pemilihan pemenang yang beragam. Saya sengaja bertukar pikiran dengan Barry Likumahuwa, Asta RAN, Anji Drive, Armand Maulana, dan Alditsa "Dochi" Sadega tentang hal ini. Saya pribadi berpendapat bahwa ajang penghargaan bisa menjadi motivasi untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Sebuah kebanggaan apabila berhasil memperoleh penghargaan yang bergengsi. Namun perlu digarisbawahi pula bahwa ajang penghargaan juga berpengaruh terhadap pemirsa televisi serta pecinta musik Indonesia karena ada "rekomendasi" dari sebuah ajang penghargaan, yaitu karya-karya apa saja yang baik untuk didengar dan dinikmati."

"...... Metode yang sering dipakai dalam menentukan pemenang penghargaan adalah metode voting melalui internet dan SMS. Menurut Dochi, metode voting itu sama dengan ajang kepopuleran. Selama penggemarnya banyak, pasti bisa menang. ...... Rolling Stone Editor's Choice Award adalah penghargaan menarik dan membanggakan menurut Dochi. Asta [RAN -red] pun berbangga hati dengan Anugerah Musik Indonesia (AMI) yang diterima RAN tahun ini, serta antusias pada ICEMA yang menurutnya memuat banyak musisi keren sebagai nominee. Barry Likumahuwa berpendapat bahwa AMI sudah cukup bagus namun perlu meningkatkan kinerja dan koordinasi, menempatkan nominee pada kategori yang tepat, memperluas lingkup penghargaan baik untuk musisi mainstream maupun independen. Jika menurut Anji belum ada ajang penghargaan yang ideal, maka Armand berpendapat untuk membuat ajang penghargaan tandingan sekelas AMI dapat menciptakan persaingan yang sehat." 

"Masing-masing acara bisa bercermin antara satu dengan yang lain dalam menghadirkan kualitas dan berkembang ke arah yang lebih baik. Tentu saja kita semua rindu dengan ajang penghargaan yang dikemas kreatif, unik dan penuh kejutan. Tulisan ini saya tujukan untuk teman-teman yang mungkin suatu saat membuat ajang penghargaan musik yang dinantikan. Tidak hanya oleh pemirsa televisi, pecinta dan pengamat musik, namun juga dinanti-nantikan oleh musisi itu sendiri."

Saya sendiri setuju dengan artikel ini, bahwa sekarang ini ajang penghargaan maupun talent show masih kurang bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Masih banyak kekurangan di sana-sini yang tampaknya tidak ada yang berusaha untuk diperbaiki, mulai dari talent show yang umbar kisah sedih demi meraih voting sms, sampai ajang penghargaan yang tidak fair. Meskipun demikian, tampaknya TransCorp mulai berusaha untuk memperbaiki kekurangan yang ada dengan membuat ajang Indonesia Mencari Bakat yang tidak mengumbar kisah sedih, dan menggabungkan voting sms dan penilaian dewan juri untuk menentukan siapa yang keluar dan siapa yang bertahan.



Selain artikel Endah itu, ada juga artikel tentang The Black Keys, sebuah grup duo beraliran blues punk asal Akron, Ohio, yang beranggotakan Patrick Carney dan Dan Auerbach.



Berikut kutipan yang paling menarik:

"Dengan rasa frustrasi, Auerbach memutuskan untuk mencari tahu apa yang sedang populer. Dia menyalakan laptop dan membuka chart iTunes Top Songs. Yang pertama adalah Lady Gaga.

"Bagaimana dia bisa sebesar itu?" katanya. "Saya belum pernah mendengar lagu-lagunya."

"Kawan, kamu tidak paham," kata Carney. "There are 300 million people in this country, and 295 million of them are fucking retarded. Itu berarti kita hanya butuh satu dari 295 orang tolol demi menjual sejuta album."

Auerbach menyetel lagu lain. Suara falsetto mendesah keluar dari speaker: "Baby, baby, baby, ohhh..."

"Siapa ini?" kata Carney.

"Justin Bieber." (Dia melafalkannya "BAI-ber")

"Yang nyanyi itu adalah cowok?" kata Carney.

"Mm-hmm."

"Yang benar. Itu cowok?"

"Ya."

"What the fuck?"

Buakakakak!!! Entah mengapa saya tergelak membaca kalimat terakhir mereka... "What the fuck?" :-D

Spirit Carries On ala MorphWiz - Jordan Rudess



Whooooaaaaa....

Jun 7, 2010

Tentang Dana Aspirasi 15 Milyar itu...

Artikel ini diambil dari sini

Dana Aspirasi DPR, Pork Barrel versi Indonesia
by benhan



Beberapa hari ini kita membaca ataupun mendengar berita mengenai Dana Aspirasi DPR yang sebesar 15 miliar rupiah per tahun per anggota. Apalagi ini? Bukannya anggota DPR sudah dapat gaji? Apakah ini jenis tunjangan baru? Saya akan menulis sedikit berdasarkan apa yang saya tahu mengenai Dana Aspirasi DPR ini.

Usulan Dana Aspirasi DPR ini awalnya dicetuskan oleh Fraksi Golkar di DPR. Gagasannya adalah setiap anggota DPR akan diberikan jatah alokasi dana sebesar 15 miliar rupiah per tahun untuk daerah pemilihannya (Dapil). Dana ini akan diambil dari APBN setiap tahunnya. Dengan jumlah anggota DPR 560 orang, besar anggaran untuk Dana Aspirasi DPR (DAD) ini mencapai nilai 8,4 triliun per tahun.

Apa alasan di balik usulan DAD ini? Sederhana jawab Fraksi Golkar, yaitu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, pemerataan pembangunan dan percepatan turunnya dana pembangunan ke daerah yang selama ini dirasakan masih kurang memuaskan. Apakah benar motif di balik usulan DAD ini adalah keprihatinan anggota DPR terhadap rakyat di daerah? Atau ada udang di balik batu? Mari kita bahas bersama.

Dana Aspirasi DPR ini bila dianalisa sangat mirip dengan ”pork barrel budget” di Amerika Serikat (AS).  Apa itu pork barrel? Kok daging babi dibawa-bawa dalam anggaran pemerintah, demikian mungkin pertanyaan Anda. Pork barrel memang adalah istilah dengan konotasi negatif yang dipakai untuk mengejek praktek budgeting pemerintah pusat (Federal) AS untuk proyek-proyek di distrik anggota Congress (setara DPR) yang terpilih. Istilah “pork barrel” ini mengacu pada praktek tertentu di era sebelum Civil War (perang saudara) AS. Saat itu ada praktek memberikan budak kulit hitam se-barrel (gentong) “salt pork” (sejenis makanan dari daging babi mirip bacon) sebagai hadiah dan membiarkan mereka memperebutkan hadiah tersebut. Istilah ini dipakai karena budgeting pemerintah oleh anggota Congress untuk Dapil-nya mirip praktek tersebut. Konstituen di daerah seakan “budak yang dibeli” dan berebut dana anggaran tersebut. Dana pork barrel digunakan politisi Congress untuk “membayar balik” konstituennya dalam bentuk bantuan dana untuk proyek-proyek di daerah pemilihannya. Membayar balik dalam pengertian membalas dukungan politik yang didapatkannya sebelum ia terpilih, baik dukungan dalam bentuk suara pemilih (vote) ataupun kontribusi dalam kampanye politiknya.



Pork barrel adalah praktek yang lazim dalam politik AS namun dikecam publik. Anggaran Federal (pemerintahan pusat) berasal dari uang pembayar pajak yang taat pajak namun juga memiliki tuntutan tinggi terhadap penggunaan uang pajak. Mereka tidak terima apabila uang pembayar pajak diboroskan untuk proyek-proyek yang tidak bermanfaat. Contoh penggunaan pork barrel yang kontroversial antara lain pembangunan jembatan di Negara Bagian Alaska. Jembatan yang menghubungkan hanya 50 penduduk di sebuah desa di satu pulau ke lapangan terbang tersebut dijuluki Bridge to Nowhere (saking tidak bermanfaatnya) menghabiskan anggaran Federal sebesar 398 juta US$.

Pork barrel spending telah demikian mengakar di dunia perpolitikan AS sehingga walaupun dikecam tetap jalan. Saking mengakarnya praktek ini, anggota Congress AS akhirnya dinilai berdasarkan kemampuan mencairkan dana pork barrel untuk konstituennya. Yang berhasil mendapatkan dana besar dari Federal akan mendapatkan kemungkinan tertinggi untuk dipilih kembali pada pemilu berikutnya. Jadi pork barrel digunakan untuk melanggengkan status quo anggota Congress, sarana politik untuk mengamankan posisinya untuk pemilu berikutnya.
Selain dikecam akibat pemborosan dan anggaran yang tidak tepat sasaran, pork barrel budget juga dikritik karena sering terjadi korupsi dan kolusi dalam praktek pencairan dana. Anggota Congress disinyalir menerima “kickback” (uang persenan) dari proyek-proyek yang berhasil digolkannya. Ada juga yang mendapatkan komisi dari pemerintahan daerah atau calo pemerintahan daerah (lobbiers). Karena liarnya anggaran ini, perwakilan dari daerah akan berebut sebagaimana budak-budak kulit hitam berebut hadiah salt pork. Dan karena begitu besar kuasa anggota Congress untuk menentukan alokasi dana, masing-masing perwakilan daerah akan menawarkan komisi yang tinggi demi suksesnya pencairan dana untuk kepentingan mereka.

Apabila pork barrel budget diterapkan di sini dengan nama Dana Aspirasi DPR, hal itu berarti kita telah mencontoh politik modern AS. Sayangnya yang dicontoh adalah bagian yang jeleknya, praktek korupsi kolusi yang dilegalkan lewat kerjasama politik. Sebuah ironi di kala politisi kita sibuk mengkritik praktek neoliberalisme dalam kebijakan perekonomian AS.

Selain masalah nilai-nilai kepantasan, DAD juga telah “berdosa” sebelum dilahirkan. Dosanya adalah melanggar UU No. 17/2003, UU No.1/2004 dan UU No.33/2004.

UU 17/2003 menyebutkan kekuasaan pengelolaan keuangan negara ada pada Presiden dan dikuasakan pada Menteri, diserahkan kepada Gubernur/ Bupati / Walikota, bukan pada DPR. UU tersebut juga telah mengubah paradigma budgeting dari sistem lama yang berdasarkan input menjadi sistem baru yang berdasarkan kinerja periode sebelumnya. DAD malah akan mengembalikan paradigma lama.

UU 1/2004 menyebutkan pengguna Anggaran bertanggung jawab kepada Presiden/ Gubernur/ Bupati/ Walikota. Pengguna di sini adalah Kementerian dan Lembaga eksekutif. DPR sebagai lembaga legislatif tidak diatur dalam UU untuk menggunakan Anggaran. Kembali DAD melanggar UU ini.

UU 33/2004 mengenai asas dana perimbangan yang mencakup desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas pembantuan. DAD menafikan prinsip desentralisasi karena alokasi anggaran dibuat oleh DPR yang ada di pusat. Hal ini melanggar prinsip otonomi daerah di mana Pemda dan DPRD-lah yang menyusun anggaran untuk daerahnya (APBD).
Selain telah melanggar hukum, DAD juga disinyalir tidak dapat mencapai motif awalnya yaitu pemerataan pembangunan dan pertumbuhan daerah. Mengapa? Karena DAD diberikan berdasarkan jumlah wakil rakyat per Dapil. Dapil di Jawa lebih banyak daripada Dapil di pulau lainnya sehingga jumlah wakil rakyatnya paling banyak. Sementara itu daerah yang miskin di Indonesia umumnya adalah daerah-daerah terpencil dengan jumlah wakil rakyat yang relatif lebih sedikit. Dengan demikian daerah yang miskin akan mendapatkan DAD dengan jumlah yang jauh lebih rendah dibanding daerah yang relatif lebih makmur. Sebagai contoh, DKI Jakarta yang memiliki angka kemiskinan terendah yakni 3,62 persen akan memperoleh dana aspirasi Rp 315 miliar, sementara Maluku yang angka Kemiskinannya 28,3 persen hanya mendapat dana aspirasi Rp 90 miliar. Jelas usulan ini bertentangan dengan logika pemerataan  yang diungkapkan DPR.

Kesimpulannya DAD tidak lain adalah politik pork barrel untuk menjaga status quo anggota DPR dengan cara membayar balik jasa konstituen dalam kampanye sebelumnya dengan menggunakan uang negara. Dengan cara tersebut anggota DPR akan mempunyai nama harum di Dapil-nya dan memperbesar kemungkinan ia terpilih kembali di pemilu berikutnya. Praktek seperti ini sudah dilegalkan di AS dan Filipina dan terbukti memang itulah tujuannya. Motivasi yang seakan mulia hanya digunakan sebagai bungkus taktik politik di balik pengusulan DAD ini.
Hendaknya fraksi-fraksi di DPR menolak usulan dari Fraksi Golkar ini kecuali memang niatnya adalah mengikuti langkah oportunis Golkar. Menteri Keuangan Agus Martowardojo juga harus menolak ide ini dan memberikan
penjelasan ke publik alasan penolakan. Apabila alasan penolakan sebagaimana yang telah dijelaskan di atas dapat dikemukakan dengan baik, niscaya publik akan setuju dan memberikan apresiasi kepada pemerintah. Saat ini beberapa LSM seperti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) telah menolak usulan DAD Golkar ini.
Silakan informasi ini didiskusikan dan disebarkan bila dirasa bermanfaat. Pendidikan publik mengenai langkah oportunis politisi Senayan ini dibutuhkan, untuk memastikan wakil rakyat kita tidak menyalahgunakan kekuasaan dengan melanggar prinsip-prinsip keadilan dan hukum di negeri ini.

Jun 5, 2010

Marmut Merah Jambu

Me
Click on the top left corner of the picture to enlarge

Baru saja membeli bukunya Raditya Dika yang baru. Dan...wow...tidak seperti yang saya harapkan. Maksudnya bukan saya bilang jelek. Malah di luar ekspektasi saya. Saya kira bukunya bakalan padat berisi kekonyolan-kekonyolan khas Dika. Ternyata justru Dika berhasil menyelipkan unsur-unsur komedi di balik kisah cinta hidupnya yang sebenarnya sangat mungkin dialami oleh banyak orang...eerrr..mungkin tidak untuk bagian pacaran sama "Shero" :-). Somehow, I DO hate some of his quotes. Not that I disagree...in fact, it's just so........me. Especially from the chapter 1, Orang Yang Jatuh Cinta Diam-Diam.

"Orang yang jatuh cinta diam-diam memenuhi catatannya dengan perasaan hati yang tidak tersampaikan."

"Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya selalu melamun dengan tidak pasti, memandang waktu yang berjalan dengan sangat cepat dan menyesali semua perbuatan yang tidak mereka lakukan dulu."

"Orang yang jatuh cinta diam-diam harus bisa melanjutkan hidupnya dalam keheningan."

"Pada akhirnya, orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa mendoakan. Mereka cuma bisa mendoakan, setelah capek berharap, pengharapan yang ada dari dulu, yang tumbuh dari mulai kecil sekali, hingga makin lama makin besar, lalu semakin lama semakin jauh. Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya menerima. Orang yang jatuh cinta diam-diam paham bahwa kenyataan terkadang berbeda dengan apa yang kita inginkan. Terkadang yang kita inginkan bisa jadi yang tidak sesungguhnya kita butuhkan. Dan sebenarnya, yang kita butuhkan hanyalah merelakan. Orang yang jatuh diam-diam hanya bisa, seperti yang mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian."